Tampilkan postingan dengan label Pengendalian diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengendalian diri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Mei 2012

Pengendalian diri

Setiap manusia berusaha mengontrol apa yang ada di sekitarnya, namun yang paling sukar dikontrol adalah pribadi manusia itu sendiri.

Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota.
Amsal ditulis pada zaman dimana menundukan kota merupakan keberhasilan yang sangat luar biasa, namun Alkitab mengatakan bahwa bagi Tuhan keberhasilan itu tidak ada artinya dengan keberhasilan seseorang mengendalikan dirinya.
Kita tidak dapat menundukkan atau mengontrol sesuatu ataupun seseorang kalau kita tidak mampu mengontrol diri sendiri. Karena itu banyak kegagalan yang disebabkan ketidakmampuan untuk mengontrol diri sendiri, bahkan suatu bangsa bisa hancur jika penguasanya tidak bisa untuk mengontrol dirinya sendiri.
Amsal 25:28
Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.
Seseorang yang tidak mempunyai penguasaan diri akan selalu rentan terhadap segala sesuatu yang menekan dirinya, orang itu tidak akan sanggup bertahan apabila menghadapi tantangan dan halangan dalam kehidupannya.
Salah satu karakteristik dari sikap kekanan-kanakan adalah tidak adanya penguasaan diri. Penguasaan diri bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir, melainkan sesuatu yang harus dilatih dan dipelajari dalam proses pendewasaan diri. Karena itu, salah satu tanda menuju kedewasaan adalah kemampuan untuk mengendalikan diri.
Ada tiga aspek yang dapat kita pelajari untuk dapat mengendalikan diri. Ketiga aspek itu adalah :
  1. Menguasai Lidah
Manusia secara umum suka bicara, bahkan secara statisktik manusia menghabiskan 1/5 hidupnya untuk berbicara. Dalam suratnya, Yakobus menyatakan bahwa barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang yang sempurna. Artinya orang yang sempurna adalah orang yang bisa mengendalikan perkataannya, dan lewat perkataannya dia pun mampu mengendalikan tubuhnya.
Alasan kita perlu menguasai lidah atau mulut anda adalah :
  • Karena Lidah Mengendalikan Hidup (Yakobus 3:3-4)
Yakobus menggunakan perumpamaan kekang pada mulut kuda untuk menjelaskan kuasa dari menjaga perkataan. Dengan mengendalikan lidah/perkataan, kita dapat mengendalikan tubuh kita. Untuk itu kita harus berhati-hati dengan perkataan kita.
Perumpamaan tentang kemudi pada kapal, menjelaskan bahwa lewat perkataan seseorang bisa menentukan kemana kehidupanmu berjalan. Kita harus memperhatikan perkataan yang keluar dari mulut kita, juga kepada siapa kita berbicara. Hal ini tidak bisa kita lakukan seorang diri, kita perlu meminta petunjuk Tuhan seperti yang dilakukan oleh Daud pada Mazmur 141:3.
  • Karena Lidah Dapat Menghancurkan Apa yang Sudah Dibangun (Yakobus 3:5-8)
Perkataanmu bisa menghancurkan reputasi, pernikahan, hubungan bahkan masa depan seseorang dalam satu malam.
Dampak dari perkataan bisa terjadi secara beruntun, jadi perkataan yang sia-sia akan merusak sesuatu bahkan lebih jauh dari apa yang kita pikirkan. Bahkan Yakobus mengungkapkan bahwa semua binatang bisa dijinakkan, tapi tidak seorangpun dapat menjinakkan lidah (ayat 8).
  • Lidah Menunjukan Siapa Diri Kita Sebenarnya (Yakobus 3:11-12)
Perumpamaan mata air menceritakan bahwa apa yang keluar dari dalam perkataan seseorang mencerminkan apa yang ada di dalam hatinya. Jika seseorang mempunyai masalah dengan mulut dan perkataannya, maka permasalahan terletak pada hatinya. Jadi untuk memperbaikinya, anda harus menyembuhkan apa yang ada di hati anda.
Bahkan secara jasmani, kondisi lidah bisa menentukan kesehatan organ tubuh lain seseorang. Maka tidak aneh jika apa yang keluar lewat lidah (perkataan) merupakan gambaran kondisi hatimu.
  1. Menguasai Tubuh
 Hal ini meliputi penguasaan diri dalam makanan, pekerjaan, pola hidup dan sebagainya.
Nafsu makan/seks/emosi itu sebenarnya baik, namun jika tidak dapat dikendalikan maka itu akan merusak kehidupan seseorang. Apapun yang dilakukan secara berlebihan akan merusak dirimu, jadi berlakulah seimbang.
1 Korintus 10:31, apapun yang kamu lakukan (makan/minum/dsb) lakukanlah itu untuk kemuliaan Tuhan.
3. Menguasai Semua Sumber Daya Yang Tuhan Berikan
Hal ini meliputi kemampuan untuk mengontrol waktu, energi, uang atau semua yang Tuhan berikan.
Kita sering memboroskan sesuatu, sehingga justru pada saat kita membutuhkan kita tidak dapat melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Kelolah semua yang diberikan.

Sukses dimulai dari pengendalian diri

Banyak ahli kepemimpinan menyebutkan penguasaan diri sebagai salah satu kunci Sukses. Tentu saja kesuksesan yang dimaksudkan dari berbagai aspek mulai dari pekerjaan, usaha bahkan keluarga. Mengapa karakter atau sifat yang disebut sebagai salah satu Buah Roh itu sangat penting?
Kata Yunani agkrateia mempunyai arti penguasaan diri, pengendalian diri, mengekang diri (self control, control over desire), kesederhanaan dan tahan nafsu. Kata ini juga sinkron dengan kecukupan atau ketenangan. Dan secara sederhana arti kata ini digambarkan seperti menahan nafsu makan. Penguasaan diri begitu penting karena sepanjang hidup, kita berhadapan dengan berbagai hal yang menyeret kita kepada hal-hal yang justu membawa kepada kesia-siaan dan kegagalan.
Penguasaan Diri Mendorong Kita Untuk Mengasihi Allah
Penguasaan diri beda dengan disiplin. Orang disiplin akan berkata, saya perlu mendisiplin diri untuk tidak berbuat itu (menahan). Sedangkan orang yang menguasai diri tidak melakukan hal yang jelas tidak baik atau tidak perlu karena didorong oleh motivasi yaitu mengasihi Allah. Jadi orang ini rela tidak melakukan sesuatu yang secara dunia nikmat karena dorongan kasihnya kepada Allah.
Penguasaan Diri Mendorong Kita Untuk Taat Kepada Allah
Penguasaan diri bukan hanya memotivasi seseorang untuk tidak melakukan hal yang sia-sia atau bertentangan dengan Allah, tetapi juga mendorong seseorang untuk mentaati perintah Allah (sekalipun enggan atau berat). Contoh: Mengampuni orang yang telah menghancurkan hidup kita adalah tindakan yang seringkali berat untuk dilakukan. Penguasaan diri akan memotivasi orang itu untuk menunjukkan kasihnya kepada Allah dengan mengampuni.
Menerapkan penguasaan diri mulai dari kehidupan keluarga, bisnis hingga masyarakat akan menolong kita untuk menjadi orang yang berhasil (sukses), karena kita terhindar untuk melakukan hal yang tidak perlu dan merugikan diri kita sendiri.
Amsal berkata orang yang tidak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. Zaman dulu setiap kota ada tembok sebagai perlindungan dari serangan musuh. Orang yang tidak dapat mengendalikan diri (menguasai diri), berarti pertahanan dirinya sudah jebol. Ciri orang seperti ini biasanya suka mengeluh dan selalu menyalahkan orang lain.

5 jurus pengendalian diri

Jurus pertama adalah mengendalikan diri dengan menggunakan prinsip kemoralan. Setiap agama pasti mengajarkan kemoralan, misalnya tidak mencuri, tidak membunuh, tidak menipu, tidak berbohong, tidak mabuk-mabukan, tidak melakukan tindakan asusila.

Saat ada dorongan hati untuk melakukan sesuatu yang negatif, coba larikan ke rambu-rambu kemoralan. Apakah yang kita lakukan ini sejalan atau bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama?

Misalnya kita mendapat kesempatan untuk mendapat untung dengan cara yang tidak wajar. Bahasa yang lebih langsung adalah kesempatan untuk korupsi. Saat terjadi konflik diri antara ya atau tidak, mau melakukan atau tidak, kita dapat mengacu pada prinsip moral di atas. Agama mengajarkan kita untuk tidak mencuri atau mengambil barang yang bukan milik kita, tanpa seijin pemiliknya. Kalau kita teguh dengan prinsip moral ini maka kita tidak akan mau korupsi. Korupsi itu dosa. Korupsi itu karma buruk. Bisa masuk neraka, lho.

Jurus kedua pengendalian diri adalah dengan menggunakan kesadaran. Kita sadar saat suatu bentuk pikiran atau perasaan yang negatif muncul. Pada umumnya orang tidak mampu menangkap pikiran atau perasaan yang muncul. Dengan demikian mereka langsung lumpuh dan dikuasai oleh pikiran dan perasaan mereka.

Misalnya, seseorang menghina atau menyinggung kita. Kita marah. Nah, kalau kita tidak sadar atau waspada maka saat emosi marah ini muncul, dengan begitu cepat, tiba-tiba kita sudah dikuasai kemarahan ini. Jika kesadaran diri kita bagus maka kita akan tahu saat emosi marah ini muncul. Kita akan tahu saat emosi ini mulai mencengkeram dan menguasai diri kita. Kita tahu saat kita akan melakukan tindakan ”bodoh” yang seharusnya tidak kita lakukan.

Saat kita berhasil mengamati emosi maka kita dapat langsung menghentikan pengaruhnya. Kalau masih belum bisa atau dirasa berat sekali untuk mengendalikan diri, larikan pikiran kita pada prinsip moral. Biasanya kita akan lebih mampu mengendalikan diri.

Bagaimana jika sudah melakukan jurus satu, prinsip moral, dan jurus dua, kesadaran, ternyata kita tetap sulit mengendalikan diri?

Lakukan jurus ketiga yaitu dengan perenungan. Saat kita sudah benar-benar tidak tahan, mau ”meledak” karena dikuasai emosi, saat kita mau marah besar, coba lakukan perenungan. Tanyakan pada diri sendiri pertanyaan, misalnya, berikut ini:

Apa sih untungnya saya marah?
Apakah benar reaksi saya seperti ini?
Mengapa saya marah ya? Apakah alasan saya marah ini sudah benar?
Kalau saya marah dan sampai melakukan tindakan yang ”bodoh”, nanti reputasi saya rusak, kan saya yang rugi sendiri.

Dengan melakukan perenungan kerap kali maka kita akan mampu mengendalikan diri. Prinsip kerjanya sebenarnya sederhana. Saat emosi aktif maka logika kita nggak akan jalan. Demikian pula sebaliknya. Jadi, saat kita melakukan perenungan atau berpikir secara mendalam maka kadar kekuatan emosi atau keinginan kita akan menurun.

Jurus keempat pengendalian diri adalah dengan menggunakan kesabaran. Emosi naik, turun, timbul, tenggelam, datang, dan pergi seperti halnya pikiran. Saat emosi bergejolak sadari bahwa ini hanya sementara. Usahakan tidak larut dalam emosi. Gunakan kesabaran, tunggu sampai emosi ini surut, baru berpikir untuk menentukan respon yang bijaksana dan bertanggung jawab. Oh ya, tahukah Anda bahwa kata bertanggung jawab itu dalam bahasa Inggris adalah responsibility, yang bila kita pecah menjadi response-ability atau kemampuan memberikan respon?

Kalau sudah menggunakan kesabaran masih juga belum bisa, bagaimana?

Lakukan jurus kelima yaitu menyibukkan diri dengan pikiran atau aktivitas yang positif. Pikiran hanya bisa memikirkan satu hal dalam suatu saat. Ibarat layar bioskop, film yang ditampilkan hanya bisa satu film dalam suatu saat. Nah, film yang muncul di layar pikiran inilah yang mempengaruhi emosi dan persepsi kita. Saat kita berhasil memaksa diri memikirkan hanya hal-hal yang positif maka film di layar pikiran kita juga berubah. Dengan demikian pengaruh dari keinginan atau suatu emosi akan mereda.