Tampilkan postingan dengan label Menuju hidup tentram. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menuju hidup tentram. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Mei 2012

Bulan mukharam awal hidup tentram

Alhamdulillah sebentar lagi kita memasuki bulan Muharram 1434 H. Subhanallah walhamdulillah Allah masih memberikan kita kesempatan untuk senantiasa beramal di dunia ini guna mempersiapkan bekal di akhirat nanti. Begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita sehingga saking banyaknya, kita lupa dan sombong bahwa tiap detik dalam hembusan nafas itu adalah nikmat. Ya, nikmat yang tak pernah dinilai dengan materi apapun.

Hmm.. dipostingan kali ini insyaaLlah saya akan membahas masalah puasa Assyura. Ya, puasa tanggal 10 bulan Muharram. Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Seutama-utama puasa setelah Ramadlan ialah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu, ialah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163)

Hukum puasa Assyura adalah wajib. Tapi itu dulu. Setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, maka hukum puasa Assyura pun menjadi sunnah. Berarti boleh kita simpulkan, keutamaannya bisa disamakan dengan puasa wajib. Terus keutamaannya apa???

Nah, ada tiga hadist yang bisa menjelaskan keutamaan puasa Assyura. Yuk mari kita lihat..

  •  Hadits Abu Qotadah Al-Harits bin Rib’iy radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang puasa hari ‘Arafah, maka beliau menjawab : “Menghapuskan (dosa-dosa) setahun yang lalu dan (setahun) yang akan datang”, dan beliau ditanya tentang puasa hari ‘Asyuro` maka beliau menjawab : “Menghapuskan (dosa-dosa) setahun yang lalu”. (HR. Muslim)
  • Hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Saya tidak pernah melihat Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam sangat bersungguh-sungguh berpuasa pada suatu hari yang dia lebih utamakan daripada selainnya kecuali pada hari ini hari ‘Asyuro` dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan“. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
  • Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu secara marfu’, “Puasa yang paling afdhol setelah Ramadhan adalah (puasa) pada bulan Allah Muharram dan sholat yang paling afdhol setelah sholat wajib adalah sholat lail”. (HR. Muslim)
Subhanallah ya.. Berarti gak ada alasan bagi yang tidak ada halangan untuk tidak melaksanakannya kan?

Tips hidup tentram

ika kita pernah mencoba menelusuri pengalaman hidup, mungkin kita akan menjumpai beberapa kesulitan hidup yang kita alami ternyata bermula dari sikap kita yang tidak tegas dan tidak memberi batas yang jelas.
Apa yang dimaksud dengan memberi batas ? Frasa “memberi batas’ yang saya maksud sebenarnya erat terkait dengan cara pandang seseorang dalam menyikapi hidup dan dalam mengatur kehidupannya.
Berapa banyak orang yang berat menjalani hari-harinya hanya karena dia tidak memberi batas. Berapa banyak orang yang bertahun-tahun hidup dalam dilema karena tidak memberi batas. Menyesal berkepanjangan karena tidak memberi batas. Menunggu tanpa kepastian karena tidak memberi batas. Tersiksa dan menjadi korban karena tidak memberi batas.
Jika hidup kita ini milik kita, lantas mengapa kita membiarkan diri kita disandera oleh keadaan dan oleh situasi yang secara tak sengaja kita ciptakan sendiri ?
Jika anda anda korban kekerasan dalam rumah tangga, baik anda sebagai wanita korban ataupun laki-laki korban (ada juga lho. Jangan anggap semua korban KDRT itu hanya wanita), mengapa anda tidak memberi batas toleransi yang dapat diterima untuk kemudian anda berkata tidak ? Apakah terlalu takut untuk memberi batas ? Apakah terlalu takut sengsara dalam hidup lantas membiarkan diri disengsarakan tanpa batas ?
Saya membenci pelaku KDRT tapi saya juga sebal pada korban yang tidak memberi batas toleransi perlakuan yang bisa diterima. Jika sering kena tampar, beri batasan berapa kali ditampar untuk kemudian memutuskan untuk melawan. Jangan menunggu dibunuh atau disiksa sehingga merana seumur hidup untuk kemudian menyesal sendiri atau disesali banyak orang.
Saya sering trenyuh mendengar pembantu rumah tangga atau TKW Indonesia disiksa oleh majikan yang tak berperikemanusiaan hingga sukar terbayangkan bagaimana perlakuannya. Selain karena majikan yang miring otaknya, hal ini juga bisa dipicu karena korban tidak memberi batas perlakuan wajar yang bisa diterima. Berilah batasan, ingat selalu bahwa hidup kita adalah milik kita. Bekerja pada orang lain tidak berarti kita menggadaikan hidup kita.
Apakah memberi batas hanya terbatas pada sesuatu yang menyiksa secara fisik ? Tentu saja tidak.
Pernahkah anda merasa jengkel karena menunggu teman yang janjian namun tak kunjung tiba ? Berilah batas waktu yang wajar yang bisa anda terima untuk menunggunya. Jika setelah itu tak ada perkembangan, lepaskan janji itu. Tak usah merasa bersalah karena kita sudah memberi batas waktu yang wajar. Dalam hidup, adakalnya kita harus memilih. Daripada menunggu tanpa kepastian dan kemudian berakhir dengan rasa jengkel lebih baik kita beri batas waktu dan kemudian menentukan keputusan berikutnya dengan ringan.
Sebelum saya menggunakan prinsip “memberi batas”, saya sering tersandera jika janji bertemu dengan teman atau dengan orang lain. Berjam-jam saya menunggu untuk kemudian jengkel dan sebal karena rekan saya ingkar janji atau sangat terlambat untuk datang sesuai janji. Sekarang saya bisa dengan leluasa menentukan batasan yang bisa saya sesuaikan sendiri. Adakalanya saya menentukan batas waktu, jika 30 menit ditunggu tidak datang, saya tinggalkan. Jika 3 kali konfirmasi terlambat tapi masih belum datang-datang, saya tinggalkan.
Batasan waktu yang ditentukan fleksibel sesuai dengan pertimbangan kita. Tak usah cemas bahwa orang yang janjian akan marah karena kita tinggalkan setelah batas waktu terlewati. Anda mau disandera oleh orang lain atau menjalani hidup sesuai dengan pertimbangan anda, itu intinya.
Ingat baik-baik bahwa memberi batas yang saya sarankan dan saya maksudkan tidak dalam bentuk mengajak konflik dengan orang lain. Point dari yang saya maksudkan adalah bahwa kita bisa menentukan batasan-batasan tertentu untuk hal-hal yang selama ini menjadi sumber kejengkelan, stress berkepanjangan, dilema tak berkeputusan dan derita tiada akhir :-) yang kita alami. Jika kita bisa berkomitmen, orang lain akan menghargai kita. Percayalah.
Selama pengalaman saya menerapkan prinsip “memberi batas”, hampir tak ada konflik yang aneh-aneh terkait dengan prinsip ini.
Prinsip memberi batas bisa diterapkan pada hampir semua persoalan hidup sehari-hari. PDKT sudah lama tapi tak mendapat respon, tentukan saja batas waktu sampai kapan anda harus menunggu. Ajakan menikah tak disambut, beri saja batasan waktu. Interview perusahaan sudah lama tapi tak mendapat konfirmasi dan menunggu tanpa kepastian kerja, tentukan saja batas waktunya. Dipanggil interview sejak pagi tapi hingga siang belum ada tindak lanjut, tentukan saja batas waktu sampai kapan anda bertahan. (eits, ini bukan pengalaman pribadi, kali aza ada yang begitu :-D )
Anda menjadi korban intimidasi, tentukan berapa kali anda harus diintimidasi untuk kemudian berbalik menolaknya. Tidak betah kerja karena gaji tidak sesuai, tentukan saja batasan gaji yang ingin dicapai dan kapan waktu yang diinginkan. Anda sering dilecehkan, diejek dan dihinakan, berilah batasan yang bisa anda terima.