Tampilkan postingan dengan label Rizki dari Allah SWT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rizki dari Allah SWT. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Mei 2012

Allah Maha pemberi Rizki

Renungan “Allah Maha Pemberi Rizki”.


Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan mengenai Ahli Kitab,
وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ
Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Rabbnya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. dan Alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.” (QS. Al Maidah: 66)

Rizki yang sudah dijamin Allah

Kawan, ini hanya tentang rizki. Bahwa Tuhan telah mempersiapkan rizki kepada makhluknya jauh sebelum makhluk itu lahir. Pembuktian tentang rizki ini memang tidak akan bisa dibuktikan dengan akal pikiran manusia atau dengan uji klinis ilmu pengetahuan modern. Tapi Allah selalu memberikan tanda-tanda agar manusia bisa belajar memahaminya.  Semut, hewan yang sangat kecil itu, bagaimanapun telah dijamin kehidupannya oleh Allah. Allah tidak pernah menyia-nyiakan makhluknya yang hidup di alam ini walaupun hanya sekecil semut sekalipun.
Laba-laba yang lemah dan kecil itu diberi kemampuan oleh Allah bisa membuat jaring-jaring sebagai tempat tinggal dan mencari makan. Bagaimana mungkin hewan yang hanya diam seharian di tempatnya bisa mendapatkan makanan dari serangga-serangga yang melayang dan terjerat di jaringnya, jika bukan karena kekuasaan Allah. Tapi laba-laba itu tidak diam saja tanpa melakukan apapun. Dia telah dikaruniai oleh Allah kemampuan membuat jaring-jaring yang tidak bisa dilakukan oleh hewan lainnya.
Pun begitu juga dengan manusia, makhluk yang dijanjikan oleh Allah sebagai makhluk yang paling mulia karena anugerah yang diberikan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya yaitu akal. Dengan akal manusia ditempatkan derajatnya lebih tinggi dari malaikat, hingga malaikat pun disuruh sujud kepadanya, sekaligus menjadikan manusia makhluk yang lebih rendah melebihi binatang jika dia lalai terhadap perintah Allah.
Dalam kaitan rizki, Allah sama sekali tidak pernah meninggalkan manusia. Di lauhul mahfudz sana, Tuhan telah menyediakan bagian-bagian rizki yang kelak akan diberikan kepada manusia ketika dia lahir ke dunia.
Kawan, betapa Allah telah membuktikan itu. Ketika anak masih di dalam janin dan bahkan ketika bakal benih itu belum bersatu antara spermatozoa dan ovum, jauh hari sebelum keduanya bersatu, Allah telah menciptakan payudara ibu yang menampung air susu sebagai bekal pertama untuk menunjang kehidupan si anak ketika lahir nanti. Air susu ibu itulah yang disebut dengan rizki. Payudara ibu tidak dibentuk setelah janin terlahir ke dunia, melainkan jauh sebelum dia menghirup udara untuk pertama kalinya. Bukankan itu sebagai peringatan kepada si anak nanti, bahwa dalam kehidupan ini jangan pernah sangsi dan ragu tentang rizki yang sebenarnya telah disiapkan oleh Allah.
Akan tetapi mengapa Allah memberikan berbagai bentuk mulut si bayi tidak semua sama, begitupun tenaga dari si bayi semua berbeda-beda, karena Allah telah mengatur seberapa besar kelak rizki yang akan diberikan kepada si anak. Ada anak yang mulutnya kecil tapi karena Allah memberi tenaga yang kuat sehingga ketika menetek pada si ibu dia mendapatkan air susu yang banyak dengan cepat. Begitupun sebaliknya ada anak yang diberi mulut yang lebar tetapi karena tenaganya lemah dan tidak terlalu kuat, dia tidak bisa menghisap air susu ibunya dengan kuat, sehingga yang didapatkan juga lebih sedikit dari si bayi yang pertama tadi.
Inilah hakikat dari rizki yang telah diciptakan oleh Allah jauh sebelum manusia lahir. Itulah kenapa Allah menciptakan manusia dengan berbagai macam karakter dan bentuk serta keahlian tertentu. Bukan karena Allah pelit kepada makhluknya tetapi agar bisa dijadikan pelajaran bagi sesama manusia, dan tidak terlalu takut tidak akan kebagian rizki, karena Allah sudah menjamin itu.
Ada orang yang hanya dengan melakukan sedikit hal saja sudah mendapat karunia Allah yang luar biasa, atau mendapat rizki yang kadang membuat iri orang yang melihatnya, tetapi ada juga orang yang dengan mati-matian telah mencari rizki sehari semalam penuh tetapi hanya cukup untuk makan dan minum sehari saja.
Rizki memang suatu rahasia Allah yang derajat kastanya sama dengan kematian dan jodoh manusia. begitu misteriusnya kadang membuat manusia menjadi berburuk sangka kepada Allah lantaran menganggap Allah tidak menyayanginya dengan memberi cobaan yang berat. Ada yang dijadikan seumur hidupnya miskin tapi dengan hati yang sabar dan penuh ridha kepada Allah, maka hidupnya selalu cukup. Tidak banyak kebutuhan hidup yang membelitnya. Ada juga seseorang begitu lahir sudah memiliki tanah dan barang-barang mewah lainnya dengan “atas nama” dia. Tetapi hatinya sangat-sangat takabbur hingga hidupnya merasa tidak pernah cukup.
Akhirnya, bagaimana kita menganggap rizki yang Allah berikan sebagai rahmat atau sebagai laknat tergantung bagaimana manusia dalam mensyukurinya. Dan rizki tidak akan menghampiri siapapun yang berpredikat sebagai “pemalas” karena ketika kecil dahulu Allah sudah memberikan kelebihan kepada manusia jauh sebelum manusia lahir dan telah menyiapkan rizki bahkan sebelum sperma ayah bertemu dengan indung telur sang ibu. Laba-laba tidak akan mendapatkan makanan jika dia tidak mau menggunakan jaringnya untuk menangkap mangsa.

Aneka pintu Rizki dari Allah

Jalan mendapatkan rizki ternyata sedemikian banyak. Allah Maha Kaya, dan Dialah yang membaginya ke segenap makhluknya. Kita sebagai makhluk sebatas berusaha mendapatkannya, lalu mensyukurinya. Jika kita mampu menyukuri, maka nikmat itu akan ditambah, dan kita sama sekali tidak boleh kufur atas nikmat yang dianugerahkan oleh Nya kepada kita. Allah membagi rizki kepada makhluknya berbeda-beda.

Hakikat Rizki

Fahamilah rahasia kekuasaan sang pemilik dunia dan akhirah yang memiliki segala kenikmatan, yang maha merubah kehidupan menjadi kehidupan yang lebih indah atau berubah menjadi kematian dan setelah itu selesai kehidupan selanjutnya.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ، إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ، فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ، الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

“Karena kebiasaan dan kenikmatan pada orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas, maka hendaklahpara hamba menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kabah), yang telah memberi makanan kepada mereka saat mereka lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan". ( QS. Qurays: 1-4 )

Firman Allah untuk orang qurays agar tenang dan bersabar, sebagaiamana mereka tenang dan santai saat melewati hari-hari di musim panas dan musim dingin, maka hendaklah mereka (bukan hanya orang qurays saja, melainkan semua hamba Allah ) untuk menyembah Sang pemilik Ka’bah Al Musyarrafah yaitu Allah. Siapakah Allah?, maka Allah mengenalkan dzatNya, Dialah Allah yang memberi mereka makan saat mereka lapar, dan memberi mereka keamanan saat mereka dalam kerisauan. Tidak ada manusia yang bisa makan kecuali ia telah diizinkan oleh Allah, walaupun ia dalam keadaan lapar dan makanan ada dihadapannya, tapi bukankah seluruh sel adalah milik Allah, dan jika Allah berkehendak dalam sekejap tubuhnya lumpuh maka ia tidak akan bisa menyentuh makanan yang ada dihadapannya, jika Allah kehendaki bibirnya sakit maka tidak satu suapan atau bahkan sebutir nasi pun yang bisa melewati tenggorokannya.

Maka Allah lah yang menyuapi kita hingga sampai makanan ke mulut kita, mulai dari makanan itu ditanam, kemudian tumbuh lalu dimasak dengan api yang juga milik Allah, Allah yang menciptakannya, Allah pula yang menciptakan air, Allah yang menciptakan matahari, Allah yang menciptakan hewan, Allah yang menciptakan tumbuhan, sedangkan kita hanya menternaknya, kita hanya memperbanyaknya, kita hanya menanamnya, namun asal muasalnya bukan dari kita, tapi dari sang maha memberi, Allah subhanahu waa’ala.

Mulai dari kita menanamnya maka berapa ribu kenikmatan yang terus berlimpah kepada kita hingga makanan itu sampai ke mulut kita. Walaupun seseorang memiliki harta yang berlimpah jika Allah tidak mengizinkan ia makan maka berhari-hari ia akan kelaparan dan tetap tidak diperbolehkan makan karena penyakit yang dideritanya.

Dikatakan oleh hujjatul islam Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali At Thusiy rahimahullah, ia menjelaskan bahwa tiadalah rizki yang akan sampai ke mulut kita kecuali telah tertulis nama kita pada rizki itu, jika itu buah pisang atau sebutir beras pun maka telah tertulis nama kita bahwa rizki ini akan sampai ke mulut si fulan bin fulan, maka hal yang demikian sudah ditentukan oleh Allah.

Walaupun ia berada di tempat yang sangat dekat dengan makanan itu tetapi itu bukan rizkinya, maka makanan itu tidak akan sampai ke mulutnya, entah makanan itu dicuri, atau ia ada kesibukan lain sehingga makanan itu ia tinggalkan, atau makanan itu tumpah dan lainnya, karena dalam rizki itu tertulis milik hewan, mungkin milik kucing, milik ikan, milik anjing dan yang lainnya, maka makanan itu bukan rizkinya walaupun sudah ada dihadapannya, rizkinya adalah makanan yang telah sampai ke mulutnya dan yang ia telan, yang pada hakikatnya ia diberi makan oleh Allah subhanahu wata'ala, namun sebagian orang tidak mau menembus hakikat kehidupan ini, hakikat datangnya makanan, hakikat datangnya minuman, hakikat kehidupannya datangnya dari mana dan lain sebagainya, padahal jika ia renungkan ia akan temukan bahwa Allah sang maha raja langit dan bumi, dan maha mengamankan mereka dari kerisauan.

Surat Quraiys ini banyak dibaca oleh para ‘arif billah (ulama shalihin) untuk mengabulkan hajatnya, untuk memperluas rizkinya dan untuk mengamankannya dari kerisauan. Surat Qurays ini ada di juz 30 dalam Al qur'an dan termasuk surat pendek yang hanya 4 ayat, terletak beberapa surat dari surat An Naas. Maka renungkan kemuliaannya, dapatkan keluhuran dan keberkahannya dengan memperbanyak membaca surat ini, insyaallah rizki Allah dan rasa aman dari kerisauan akan didapatkan. Tetapi mengapa masih banyak orang miskin yang kelaparan?!, ingatlah tanpa kita ketahui bahwa mungkin Allah tidak mau memberinya makan pada saat itu, namun kita jangan berkata bahwa kaum fuqara’ tidak ada yang memperhatikan, karena banyak pula orang kaya yang kelaparan dan kehausan (karena penyakit yg dideritanya).

Maka fahamilah, barangkali orang yang merasa lapar saat ini Allah tunda rizkinya hingga esok di hari kiamat atau mungkin di masa mendatangnya Allah tumpahkan rizki yang luas untuknya. Dan sebaliknya orang yang sedang dalam kenikmatan berhati-hatilah karena bisa saja Allah merubah keadaannya. Hadirin hadirat, sampai kabar kepada saya lewat surat, sms, dan email dari adik-adik kita yang bersyukur karena lulus dalam ujian, dan banyak juga yang mengeluh karena tidak lulus. Jangan risau jika tidak lulus karena hal itu adalah cobaan dari Allah subhanahu wata'ala, dan jika kau sabar dan tenang maka kau akan mendapatkan kesuksesan yang hanya milik Allah subhanahu wata'ala, kesuksesan bukan milik siapa-siapa tetapi hanya milik Allah, jadi jika tidak lulus ujian atau yang lainnya maka teruslah berusaha untuk lulus, teruslah berusaha untuk sukses di dunia ini namun jangan menentang tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan dengan menjauhi hal-hal yang haram maka engkau akan mendapatkan kesuksesan, terlebih lagi para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dikatakan oleh para ulama' kita: "Barangsiapa yang cinta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka ia aman dan berada dalam keselamatan dunia dan akhirah".

Renungan tentang rizki Allah

Disebuah kampung yang tenang, di hulu sebuah sungai,  hidup seorang  kyai bernama Hanif, Beliau menjadi imam dikampung itu dan memimpin umat hingga usianya yang menjelang senja. Beliau banyak mengajarkan ilmu-ilmu syariat kepada umat dan sesekali disisipi ilmu hakikat dalam ajaran islam.
P ada suatu ketika datanglah santri lama sang Kyai ke kampung itu, Ia bernama Mustofa karena lama tidak bertemu, Mustofa memutuskan untuk singgah beberapa hari di kampung itu.
Seperti biasanya ketika Mustofa mengunjungi gurunya selalu terjadi dialog untuk mengkaji lebih mendalam tentang syariat dan hakikat Islam.
Kunjungan kali ini digunakan oleh mereka berdua untuk membahas masalah rizki yang datang dari ALLAH. Mustofa berpendapat bahwa rizki yang ALLAH berikan kepada kita haruslah dijemput datangnya, dengan kata lain manusia harus berusaha untuk mendapatkan rizki dari ALLAH itu. Menurut Mustofa mustahil rizki itu datang dengan sendirinya tanpa kita berusaha dan berupaya.
Berbeda dengan Muridnya, Kyai Hanif lebih memandang bahwa rizki yang datang dari ALLAH itu akan datang dengan sendirinya tanpa harus kita jemput, menurut kyai Hanif ALLAH sudah menentukan rizki seseorang, maka meski orang itu tidak menjemputnya rizki itu pastilah akan datang.
Perdebatan kajian soal rizki ALLAH ini membuat Mustofa merenung, benarkah apa yang dikatakan oleh guruku tadi?.  namun ia tidak juga menemukan kebenarannya. bahkan Mustofa menjadi bertanya-tanya lalu dari mana rizki itu datang bila kita tidak berusaha? apakah akan turun dari langit?.
Dua hari sudah Mustofa singgah di rumah gurunya. Mustofa berkata kepada kyai Hanif, “sampai detik ini saya belum bisa memahami maksud kyai soal rizki yang datang sendiri itu”.
Kyai Hanif menjawab dengan senyum, “Sudahlah sekarang kamu pulang, insya ALLAH jika kau kesini lagi kau akan menemukan jawabannya”. Akhirnya Mustofa kembali kerumahnya diseberang kampung, dengan membawa sebuah pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya.
Seminggu telah berlalu. Mustofa berniat datang kerumah Gurunya, apalagi ini hari libur tanggal muda sekalian membeli buah pisang buat oleh-oleh  kyai Hanif.
Sampai dirumah kyai Hanif, mustofa mengucap salam, dan kyai Hanif mempersilahkan ia masuk. mustofa memberikan buah pisang yang dibelinya untuk kyai Hanif. dan kyai Hanif menerimanya sembari mengucap alhamdulillah.
Mustofa yang masih penasaran soal rizki ALLAH, bertanya lagi kepada sang kyai, “kyai samapi saat ini saya belum menemukan jawaban dari masalah rizki ALLAH, bagaimana kyai bisa menjelaskan kepada saya?, agar saya memahaminya.
kyai Hanif mengambil buah pisang yang baru saja ia terima dari mustofa, “Ini” sambil menunjukkan pada mustofa, kemudian mustofa menjawab, “Itu khan buah pisang saya beli buat kyai, dan itu dibeli dari uang gaji saya kerja sebulan”.
kyai Hanif tersenyum, “Itu kamu, klo aku mendapatakan buah pisang ini tanpa mengeluarkan uang atau usaha apapun”, “bukankah kamu yang memberikannya padaku?”.
Sambil terdiam dan mengangguk-angguk mustofa baru memahami bahwa rizki ALLAH bisa datang dengan dicari bahkan bisa datang tanpa dicari, “terima kasih kyai, sekarang saya memahami apa yang kyai maksudkan”.