Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman.
Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas.
Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku
hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat
Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah
dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”
Tatkala
Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah
kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya,
maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas
dan mengharap ridha-Nya.”
Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu
(yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan
ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar
tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus
ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan
benar jika dilakukan sesuai sunnah.” Pendapat Fudhail ini disandarkan
pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110.
Imam
Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu
Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk
membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika
demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”
Karena
itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal
tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil
pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain
beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin
Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa
keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar