Jadi
pengertian Puasa Weton adalah puasa yang dilakukan pada hari kelahiran
berdasarkan perhitungan kalender Jawa yang berputar selama 35 hari.
Artinya diperingati setiap 35 hari sekali. Berbeda dengan acara ulang
tahun yang diperingati setahun sekali.
Amalan Puasa
Weton merupakan ajaran mulia dari para leluhur, guna menghayati dan
menghargai kelahirannya diri kita ke alam dunia ini. Falsafah sederhana
puasa weton ini adalah hari lahir merupakan kehendak Tuhan dalam hidup
kita. Jadi pada hari tersebut, kembali kita mengingat kasih Tuhan yang
begitu besar dalam hidup kita. Dengan harapan, agar kita ingat bahwa
lahirnya manusia dimuka bumi ini membawa kodrat. Kalau dalam istilah
Quran, diturunkannya manusia dimuka bumi ini adalah sebagai khalifah /
pemimpin (Al-Baqarah: 30).
Layaknya sebagai seorang khalifah adalah membawa berkah dan rahmat bagi alam semesta. Bukan untuk merusak apalagi membinasakan alam atau sesama manusia.
Setiap diri
yang selalu ingat kepada kodratnya ini maka akan menjadi pribadi-pribadi
yang mulia, bijaksana dan penuh kasih sayang kepada sesama dan seluruh
alam. Maka kehidupannya akan senantiasa dalam lindungan dan penjagaan
Tuhan Yang Maha Kuasa.
Amalan puasa
Weton memang tidak ada tuntunan langsung dari Rasulullah. Sebab ini
adalah salah satu cara para leluhur Jawa berpuasa. Tidak ada hubungan
dengan aliran agama tertentu. Jadi boleh diamalkan oleh semua orang,
apapun agama dan keyakinannya. Walaupun demikian sesungguhnya amalan ini
tersirat dari perilaku puasa Rasulullah Muhammad SAW. Anda bisa simak
hadist tentang puasa Sunah Senin-Kamis. Seperti hadist berikut ini.
Nabi ditanya tentang puasa hari Senin lalu beliau menjawab, “Itu adalah hari dimana aku dilahirkan, dan hari dimana aku diutuskan sebagai Nabi, atau dimana diturunkannya wahyu pertama padaku”. (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i, sanadnya shahih).
Dari Hadist
tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa dalam Islam boleh hukumnya
mengkhususkan ibadah pada hari tertentu yang dianggap memiliki arti
istimewa (baik). Juga diperbolehkan memperingati hari lahir dengan
berpuasa. Atau beribadah sunnat lainnya karena ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi SAW saat hari kelahirannya. Dan ini tidak termasuk kategory bid’ah yang dilarang seperti yang sering dituduhkan segelintir golongan umat Islam yang mengaku-aku pengikut sunnah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar